Novel - Lin (part I)

    LIN...





    Dream...



    Mimpi itu kembali lagi. Sudah beberapa malam ini aku ditemani mimpi yang aneh dan berlanjut terus menerus. Ia menari, bernyanyi, bahkan bercerita banyak padaku didalam mimpi ini. Mimpi aneh yang ternyata kurasakan. Aku menceritakan pada ibu, ibu hanya tersenyum manis padaku seakan ia tahu apa saja yang kualami dalam mimpiku itu.

    Aku bertemu dengan seorang pria tampan dengan mengenakan baju perisai , mengendarai kuda sendirian ditengah hutan yang sepi dan mengerikan. Ia sempat menoleh kearahku namun berlalu begitu saja. Tak lama aku melihat burung hantu berkaki empat dan berekor kera. Mahluk itu menatapku lama seakan ia mengenaliku dan seketika hilang entah kemana. Tak lama aku terdorong kedalam lubang dalam tanah dan terbangun dari tidurku. Mimpi itu sangat meresahkanku. Aku taku bila ingin tidur lagi.

    Hari ini aku terduduk disebuah batu ditaman depan halaman rumahku. Aku rindu dengan ayahku yang tak pernah aku kenal wajahnya. Sejak aku kecil, ayah sudah tiada. Ibu berkata ayahku dalah orang yang sangat baik dan tampan. Ayah meninggal saat aku lahir dikota ini. Tak lebih besar dari kota namun aku lebih suka bila disebut kota. Desa maospati yang kecil dimana aku berlari, bermain, belajar tentang banyak hal mulai dari berteman, mengenal alam, hingga arti sebuah idup ada disini. Penduduknyapun tak lebih dari warga desa yang bercampur dengan beberapa orang kota. Kehidupan kami sangatlah sederhana, hingga hanya untuk makan berduapun kami hanya perlu memetik sayuran dari kebun belakang.

    Beberapa meter dari rumah kami adalah hutan lebat, tepat dikaki gunung Lawu. Konon gunung Lawu adalah paku dunia, Gunung tertinggi didunia. Namun dalam cerita pewayangan jawa, gunung lawu dibelah oleh salah satu pangeran yang sakti menjadi beberapa bagian diantaranya Gunung Kelud dan Gunung Semeru. Hingga sekarang seiring kemajuan zaman cerita pewayangan tersebut sudah mulai pudar. Gunung ini masih menjadi primadona dalam wisata.

    Pepohonan lebat menyelimuti hutan dikaki Gunung ini. Masyakakat yang tinggal digunung itupun masih tergolong sangat jarang. Hanya daerah tertentu saja yang ramai akan penduduk. Banyak kejadian aneh terjadi diGunung ini. Beberapa orang pernah elihat penampakan mahluk selain manusia berada disana. Terkadang berwujud mahluk raksasa besar dengan wajah yang tak berbentuk. Atau penah mendapati perwujudan naga raksasa yang konon naga itulah yang membentuk sebuah telaga diatas Gunung. Orang menemainya telaga sarangan. Banyak pula mitos mengenai Gunung ini dalam berbagai kejadian, dan hal itu kebanyakan nyata terjadi. Sampai sekarang aku masih tak percaya dengan mitos mitos seperti itu. Aku hanya prcaya dengan mahluk mahluk yang tak berwujud yang sebenarnya memang ada dan menghuni gunung ini.

    Panas matahari menerangi pemandangan disekitarku. Dibawah pohon beringin yang lebat aku menikmati indahnya pemandangan didepan mataku. Terdiri dari langit biru, beberapa awan berlarian dan pesona Gunung Lawu yang menakjubkan. Sepi dan sunyi hingga suara anginpun terdengar merdu. Tenang rasanya hati ini bila berlama lama disini. Aku memalingkan pandanganku ke rerumputan yang lebat, namun apa itu. Seperti ada sesuatu didalam semak tersebut. Banar, aku melihat telinga kucing, namun tak sebesar itu bila hanya seekor kucing rumahan. Terus aku mengamati semak ini dan benar seekor kucing keluar berjalan dengan perlahan. Ia menatapku dan akupun tersenyum. Namun aku terkaget saat kucing itu membalas senyumanku. Benar, ia tersenyum padaku atau aku hanya dehidrasi disiang ini sehingga menjadi berhalusinasi. Ia tak mendekatiku namun seakan ia ingin bicara padaku. Bibirnya bergerak ingin mengucapkan sesuatu. Astaga, samar samar aku mendengarnya perlahan berkata “Hai Lin...”. dan iapun menghilang lagi dalam semak belukar itu. Aku tak percaya yang barusan terjadi.



    Aku pulang dan menceritakan kembali kapada ibu. Ibu berkata hati hatilah bila bermain ditempat yang sepi Karena aku tak tahu apa yang akan terjadi bila sesuatu yang berbahaya berada didekatku. Yang paling aku ingat dari semua perkataan ibu ialah aku dilahirkan untuk sesuatu yang luar biasa, entah apa maksud dari kata kata ibu. Namun beberapa hari seusai aku merayakan ulang tahunku yang ke-17, aku sering mengalami hal hal yang aneh seperti siang tadi aku bertemu seekor kucing yang dapat berbicara. Malampun datang, aku sudah tahu malam ini aku akan bermimpi aneh itu lagi. Sebuah mimpi yang tak dapat aku ceritakan kepada siapapun karena memang tak ada yang mempercayainya. Teman temankupun berkata aku suka berbohong dengan semua kejadian yang aku alami sendiri. Aku tak pernah berbohong, dan ibu mengajarkan hal itu padaku sejak aku kecil. Hanya ibulah yang sepertinya mempercayaiku seakan ia lebih banyak tahu daripada aku.

    Yang membuatku aneh ialah aku pernah mendengar sebuah cerita dongeng saat aku masih kecil oleh ibu bahwa ibu juga pernah bertemu dengan mahluk mahluk seperti tak lazimnya ada. Ia bertemu dengan seekor kuda berkepala manusia, seekor tikus yang sangat baik, dan banyak lagi yang kebanyakan aku tak ingat mahluk apa saja yang ia ceritakan padaku. Akupun bertanya sekali lagi pada ibu mengenai mahluk mahluk yang pernah ibu ceritakan daulu, namun ibu hanya menjawab itu hanyalah sebuah imajinasi yang bila aku meyakininya akan menjadi kenyataan. Apa benar itu hanya sebuah imajinasi.., aku tak yakin.

    Aku melihat keluar rumah lewat jendela kamarku. Tampak pemandangan yang dangat indah pada malam hari. Memang bila kita berada didaerah pegunungan pemandangan bagaimanapun akan tampak indah. Bintang bertaburan banyak skali menghiasi langit malam. Aku perna mendengar sebuah puisi romantis mengenai langit malam yang diucapkan temanku padaku,

    Langit malam...

    Saat mata saling memandang...

    Antara aku dan kamu...

    Adalah keyakinan...

    Aku tersenyum malu saat itu mendengar ia mengucapkannya. Ah, lebih baik aku tidur karena besok aku harus membantu ibu berjualan dipasar. Semogamimpi aneh itu tak lagi terjadi malam ini.

    Aku mulai memejamkan mata. Kutenangkan diri agar cepat terlelap dalam kesunyian. Kuhirup udara dingin dan berhembus sedikit demi sedikit hingga akhirnya aku tak merasakan hembusan itu lagi. Akupun tertidur malam itu dalam gelap dan sunyi.





    to be continue...

Total Pageviews