Cerpen - Gerbang Oranye

    Anak Gerbang Oranye
    Tak terasa dahulu secepat ini akan berakhir. Padahal sepertinya baru kemarin aku mendaftar disekolah ini. Masih terasa olehku deg- degan dalam hati menunggu pengumuman penerimaan siswa baru tiga tahun yang lalu. Namun kini aku sedang duduk dengan penuh konsentrasi. Berhadapan dengan lembar demi lembar soal ujian tahun ini. Terkadang aku merasa tidak adil tiga tahun aku menghisap asam manis SMA, namun dibayar hanya dengan 5 hari yang menentukan. Asam manis tersebut kini berakhir dengan senyumku bula mengingat kejadian yang ganjil itu. Tepatnya hari keempat Ujian Nasional kali ini. Strategi kami lancarkan demi keberhasilan nanti mulai dari menyalami kepala sekolah dan semua orang yang ada didalam sekolah tersebut, hingga berlangganan koran. Dari koran yang kubaca, ternyata banyak juga kasus yang terjadi disekolah lainnya. Kalau difikir- fikir kami seharusnya bersyukur dengan pengawas tahun ini. Mereka tidak berfikir siswa harus mengerjakan sendiri, namun bagaimana agar kami dapat mengerjakan dengan sebaik- baiknya. Sayangnya dari semua mahluk yang ada disekolah ini hanya satu orang yang kontra dengan semua ini. Entah dia robot dengan program penghancuran ataukah orang yang tak pernah peduli dengan nasib anak anak desa seperti kami ini. Siapa lagi kalau bukan seorang wanita yang diutus independen atau apalah namanya. Aku harap setelah Ujian selesai aku dapat menggigitnya sekuat tenaga. Toh juga kami anak anak desa akan berakhir didesa itu sebagai penerus bapak- bapak kami yang mulai lelah mencari uang agar kami tetap bersekolah.
    Terus terang aku tak pernah belajar pada Ujian nasional kali ini, bahkan sampai Ayahku marah- marah aku masih tetap tak menyentuh buku. Bukannya tak belajar, melainkan tak bisa belajar. Kalau ditanya bisa? Tentunya aku tak bisa namun hal itulah yang membuatku kini mengerti tentang apa saja yang selama ini aku pelajari. Hanya berkisar tentang dunia dan seisinya, tidak mencakup misteri jagat semesta. Yang masih tak kumengerti ialah kapan aku dapat mencampur CH3COOH 2molal dengan KCL 5molal, atau mengukur Energi Potensial dari balok kayu bermassa 10 kg setelh 5 detik. Sedangkan aku berniat meneruskan cita- citaku dibidang seni rupa. Anehnya hal yang takan pernah aku lakukan inilah penentu masa depanku. Andai saja aku melihat Bapak Presiden menghitung kecepatan mobil dengan teori GLBB setelah 7 sekon hanya untuk iseng- iseng mungkin sejak lama aku sudah menjuarai Olimpiade Sains Internasional.
    Dibalik Gerbang berwarna Oranye inilah aku berdiri sekarang. Lama aku menatapnya, tak terasa sudah waktunya aku harus meninggalkannya. Teman- temanku, Wali kelasku, para Guruku dengan karakter mereka masing- masing, dan tentunya bangku tanpa laciku yang telah kucoret- coret mulai dari contekan hingga gambar- gambar yang tak jelas bentuknya. Kupejamkan mata, kini kudengar tawa riang mereka, kesedihan mereka, dan kejahilan mereka. Aku merekam setiap kejadia dalam sekolah ini selama 3 tahun terakhir. Ada yang aneh, lucu, gila, kocak, ajaib, menakjubkan, hingga menyebalkan. Tentunya dengan segudang cerita cinta yang wajib melekat pada anak remaja sepertiku. Sayangnya aku malas berurusan dengan cinta, entah mengapa.
    Ternyata masa- masa dulu aku berada dikelas yang kukira sangat membosankan dengan ditemani pidato panjang sang Guru ternyata hal itulah yang paling kurindukan, setidaknya nanti setelah aku lulus. Namun apapun itu, bagaimanapun itu, sekolahku adalah yang nomor satu. Sayangnya aku bukan anak yang cerdas yang bisa mengangkat nama sekolah setinggi mungkin seperti yang lain. Seandainya mereka tahu seberapa berusahanya aku agar sekolah yang dibilang pelosok ini agar bisa mendapatkan nama yang harum dan bisa kubanggakan, pastilah Ibu Kepala Sekolah bakal sedih 3 hari 3 malam mengetahuinya. Paling tidak ada namaku didaftar absen sebagai pelengkap agar bangku yang tak berlaci itu terisi mahluk walau tidak terlalu bisa diandalkan. Tiga hal yang kudapatkan selain ilmu pengetahuan ialah persahabatan, bagaimana seharusnya menjadi seorang manusia karangan Wali Kelasku, dan makna dari sebuah kehidupan oleh seorang anak manusia yang hendak mengejar cita- citanya. Itulah
    yang kusebut dengan Gerbang Oranye.

Total Pageviews