Batik Sidomukti - Magetan

    Batik Khas Magetan

    Kata Batik berasal dari kata “menggambar titik”.

    Hampir setiap daerah mempunyai tradisi membuat batik, salah satunya yaitu terdapat di Kabupaten Magetan, yang terkenal dengan Batik Sidomukti.

    Desa yang merupakan sentra perajin batik di Magetan adalah Desa Sidomukti, Kecamatan Plaosan. Bagi para wanita di desa ini, menorehkan canting di atas kain bukanlah hal yang sulit. Sebab keahlian tersebut telah diperolehnya secara turun-temurun sejak tahun 1970-an.

    Pengrajin batik Sidomukti, kabupaten Magetan.

    Sekilas, Batik Sidomukti tidak jauh berbeda dari batik daerah lainnya. Namun, sebenarnya Batik Sidomukti Magetan mempunyai ciri khusus pada motifnya, yakni motif "Pring Sedapur" atau serumpum bambu. Motif ini diambil dari rumpunan tumbuhan bambu yang tumbuh mengelilingi kawasan Dusun Papringan di Desa Sidomukti, tempat batik tulis ini dibuat untuk pertama kalinya. Waktu itu sekitar tahun 1970-an.

    Kelompok Perajin Batik Mukti Rahayu ini memiliki anggota sebanyak kurang lebih 25 orang. Mereka semuanya adalah ibu-ibu asal desa setempat yang tetap tekun mempertahankan budaya asli Magetan dan Indonesia pada umumnya, agar tidak lekang oleh waktu. Untuk saya membuat sebuah batik diperlukan kesabaran dan ketelitian. Pembatik di Desa Sidomukti tetap mempertahankan keaslian proses pembuatan batik secara tradisional. Tak heran jika pengerjaan sebuah batik membutuhkan waktu empat hari hingga satu minggu lamanya.

    Batik "Pring Sedapur" khas Magetan.

    Dengan segala kekurangannya, Batik Pring Sedapur Magetan ini telah dijadikan sebagai salah satu ikon Kabupaten Magetan. Implementasinya, belasan ribu pegawai negeri sipil di seluruh Magetan telah memakai seragam dengan corak Pring Sedapur setiap hari tertentu.

    Secara umum keberadaan Batik Sidomukti sangat terpuruk. Keberadaan batik khas Magetan dengan motif Pring Sedapur ini, dari tahun ke tahun semakin kalah bersaing di tingkat pasar lokal akibat masuknya Batik Solo, Yogyakarta, dan Pekalongan.

    Batik tulis bermotif serumpun bambu ini rata-rata dijual seharga Rp65 ribu hingga Rp300 ribu untuk berbagai jenis kain. Pemasaran batik ini masih untuk pasar lokal, namun ada juga beberapa yang datang dari luar Magetan seperti Lamongan, Surabaya, dan Yogyakarta.

    Meski sudah diakui oleh pemda setempat, namun batiknya belum memiliki hak paten. Meski tanpa hak cipta dan hak paten, kelompok perajin batik ini tetap berkarya. Bahkan kini, mereka telah banyak memodifikasi motif batik Pring Sedapur dengan motif tren selera pasar. Motif cendrawasih dan bermacam jenis bunga digabungkan dengan motif seonggok bambu.

    Di tengah berbagai kendala tersebut, pihaknya telah berkomitmen untuk terus mempertahankan dan mengembangkan batik, budaya bangsa yang telah dipatenkan keberadaanya di tingkat internasional oleh UNESCO, sebagai budaya dunia yang bernilai tinggi.

    Bentuk perhatian dari Pemkab Magetan sempat diwujudkan dengan pemesanan seragam bagi pegawai negeri sipil (PNS) dari beberapa instansi pemerintah. Hingga akhirnya, pada tahun 2006 lalu, Pemkab Magetan menginstruksikan semua pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungannya memakai baju batik khas Magetan, Pring Sedapur.

    Namun, ironisnya, instruksi tersebut tidak diikuti dengan order sebanyak 15.000 helai kain dari Pemkab Magetan ke Kelompok Perajin Batik Magetan di Desa Sidomukti. Malahan, Pemkab Magetan telah memesan seragam batik bagi seluruh karyawannya dengan motif khas Magetan tersebut ke Solo, Jawa Tengah.

    Alasannya, mereka dinilai tidak mampu memenuhi order sebanyak itu dengan teknik batiknya yang masih batik tulis. Apapun alasannya, paling tidak, mereka merasa tidak diprioritaskan. Apalagi motif seragam yang dipesan ke Solo tersebut merupakan motif asli daerah yang mereka ciptakan sendiri.

    Meski demikian, pihaknya tidak dapat berbuat banyak. Untuk bisa bertahan, ia dengan anggota lainnya tetap berproduksi meski dengan skala kecil. Bantuan terbaru yang diberikan Pemkab kepada anggota kelompok perajin adalah pemberian satu paket alat produksi batik cap senilai Rp110 juta.

    Alat tersebut terdiri dari mesin ’padder’ (pewarna kain), ’blower’ (pengering), bak penampungan, alat cap, loyang, dan pengolahan limbah. Dengan diberikannya bantuan tersebut, diharapkan agar batik khas Magetan mampu bersaing di tingkat pasar lokal.

    Dapat saya simpulkan bahwa walaupun Magetan termasuk daeah yang tak terlalu eksis dengan kerajinan, namun kabupaten ini memiliki suatu kebudayaan bangsa yang tak ternilai harganya yaitu kerajinan batik bernama batik Sidomukti dengan motifnya yakni motif "Pring Sedapur" atau serumpum bambu.

    Hal tesebut perlu adanya kesadaran masyarakat dan instansi terkait untuk mengangkat ikon salah satu khas Magetan ini. Dimaksudkan agar selain sebagai sebuah kebanggaan daerah atau meneruskan budaya bangsa, juga sebagai sumber penghasilan warga setempat.

    ****

Total Pageviews