Novel - Lin (part I)

    LIN...





    Dream...



    Mimpi itu kembali lagi. Sudah beberapa malam ini aku ditemani mimpi yang aneh dan berlanjut terus menerus. Ia menari, bernyanyi, bahkan bercerita banyak padaku didalam mimpi ini. Mimpi aneh yang ternyata kurasakan. Aku menceritakan pada ibu, ibu hanya tersenyum manis padaku seakan ia tahu apa saja yang kualami dalam mimpiku itu.

    Aku bertemu dengan seorang pria tampan dengan mengenakan baju perisai , mengendarai kuda sendirian ditengah hutan yang sepi dan mengerikan. Ia sempat menoleh kearahku namun berlalu begitu saja. Tak lama aku melihat burung hantu berkaki empat dan berekor kera. Mahluk itu menatapku lama seakan ia mengenaliku dan seketika hilang entah kemana. Tak lama aku terdorong kedalam lubang dalam tanah dan terbangun dari tidurku. Mimpi itu sangat meresahkanku. Aku taku bila ingin tidur lagi.

    Hari ini aku terduduk disebuah batu ditaman depan halaman rumahku. Aku rindu dengan ayahku yang tak pernah aku kenal wajahnya. Sejak aku kecil, ayah sudah tiada. Ibu berkata ayahku dalah orang yang sangat baik dan tampan. Ayah meninggal saat aku lahir dikota ini. Tak lebih besar dari kota namun aku lebih suka bila disebut kota. Desa maospati yang kecil dimana aku berlari, bermain, belajar tentang banyak hal mulai dari berteman, mengenal alam, hingga arti sebuah idup ada disini. Penduduknyapun tak lebih dari warga desa yang bercampur dengan beberapa orang kota. Kehidupan kami sangatlah sederhana, hingga hanya untuk makan berduapun kami hanya perlu memetik sayuran dari kebun belakang.

    Beberapa meter dari rumah kami adalah hutan lebat, tepat dikaki gunung Lawu. Konon gunung Lawu adalah paku dunia, Gunung tertinggi didunia. Namun dalam cerita pewayangan jawa, gunung lawu dibelah oleh salah satu pangeran yang sakti menjadi beberapa bagian diantaranya Gunung Kelud dan Gunung Semeru. Hingga sekarang seiring kemajuan zaman cerita pewayangan tersebut sudah mulai pudar. Gunung ini masih menjadi primadona dalam wisata.

    Pepohonan lebat menyelimuti hutan dikaki Gunung ini. Masyakakat yang tinggal digunung itupun masih tergolong sangat jarang. Hanya daerah tertentu saja yang ramai akan penduduk. Banyak kejadian aneh terjadi diGunung ini. Beberapa orang pernah elihat penampakan mahluk selain manusia berada disana. Terkadang berwujud mahluk raksasa besar dengan wajah yang tak berbentuk. Atau penah mendapati perwujudan naga raksasa yang konon naga itulah yang membentuk sebuah telaga diatas Gunung. Orang menemainya telaga sarangan. Banyak pula mitos mengenai Gunung ini dalam berbagai kejadian, dan hal itu kebanyakan nyata terjadi. Sampai sekarang aku masih tak percaya dengan mitos mitos seperti itu. Aku hanya prcaya dengan mahluk mahluk yang tak berwujud yang sebenarnya memang ada dan menghuni gunung ini.

    Panas matahari menerangi pemandangan disekitarku. Dibawah pohon beringin yang lebat aku menikmati indahnya pemandangan didepan mataku. Terdiri dari langit biru, beberapa awan berlarian dan pesona Gunung Lawu yang menakjubkan. Sepi dan sunyi hingga suara anginpun terdengar merdu. Tenang rasanya hati ini bila berlama lama disini. Aku memalingkan pandanganku ke rerumputan yang lebat, namun apa itu. Seperti ada sesuatu didalam semak tersebut. Banar, aku melihat telinga kucing, namun tak sebesar itu bila hanya seekor kucing rumahan. Terus aku mengamati semak ini dan benar seekor kucing keluar berjalan dengan perlahan. Ia menatapku dan akupun tersenyum. Namun aku terkaget saat kucing itu membalas senyumanku. Benar, ia tersenyum padaku atau aku hanya dehidrasi disiang ini sehingga menjadi berhalusinasi. Ia tak mendekatiku namun seakan ia ingin bicara padaku. Bibirnya bergerak ingin mengucapkan sesuatu. Astaga, samar samar aku mendengarnya perlahan berkata “Hai Lin...”. dan iapun menghilang lagi dalam semak belukar itu. Aku tak percaya yang barusan terjadi.



    Aku pulang dan menceritakan kembali kapada ibu. Ibu berkata hati hatilah bila bermain ditempat yang sepi Karena aku tak tahu apa yang akan terjadi bila sesuatu yang berbahaya berada didekatku. Yang paling aku ingat dari semua perkataan ibu ialah aku dilahirkan untuk sesuatu yang luar biasa, entah apa maksud dari kata kata ibu. Namun beberapa hari seusai aku merayakan ulang tahunku yang ke-17, aku sering mengalami hal hal yang aneh seperti siang tadi aku bertemu seekor kucing yang dapat berbicara. Malampun datang, aku sudah tahu malam ini aku akan bermimpi aneh itu lagi. Sebuah mimpi yang tak dapat aku ceritakan kepada siapapun karena memang tak ada yang mempercayainya. Teman temankupun berkata aku suka berbohong dengan semua kejadian yang aku alami sendiri. Aku tak pernah berbohong, dan ibu mengajarkan hal itu padaku sejak aku kecil. Hanya ibulah yang sepertinya mempercayaiku seakan ia lebih banyak tahu daripada aku.

    Yang membuatku aneh ialah aku pernah mendengar sebuah cerita dongeng saat aku masih kecil oleh ibu bahwa ibu juga pernah bertemu dengan mahluk mahluk seperti tak lazimnya ada. Ia bertemu dengan seekor kuda berkepala manusia, seekor tikus yang sangat baik, dan banyak lagi yang kebanyakan aku tak ingat mahluk apa saja yang ia ceritakan padaku. Akupun bertanya sekali lagi pada ibu mengenai mahluk mahluk yang pernah ibu ceritakan daulu, namun ibu hanya menjawab itu hanyalah sebuah imajinasi yang bila aku meyakininya akan menjadi kenyataan. Apa benar itu hanya sebuah imajinasi.., aku tak yakin.

    Aku melihat keluar rumah lewat jendela kamarku. Tampak pemandangan yang dangat indah pada malam hari. Memang bila kita berada didaerah pegunungan pemandangan bagaimanapun akan tampak indah. Bintang bertaburan banyak skali menghiasi langit malam. Aku perna mendengar sebuah puisi romantis mengenai langit malam yang diucapkan temanku padaku,

    Langit malam...

    Saat mata saling memandang...

    Antara aku dan kamu...

    Adalah keyakinan...

    Aku tersenyum malu saat itu mendengar ia mengucapkannya. Ah, lebih baik aku tidur karena besok aku harus membantu ibu berjualan dipasar. Semogamimpi aneh itu tak lagi terjadi malam ini.

    Aku mulai memejamkan mata. Kutenangkan diri agar cepat terlelap dalam kesunyian. Kuhirup udara dingin dan berhembus sedikit demi sedikit hingga akhirnya aku tak merasakan hembusan itu lagi. Akupun tertidur malam itu dalam gelap dan sunyi.





    to be continue...

Just Say Happy B'day...

    Just Say Happy B'day...
    Aku bangun, menunggu seseorang mengucapkan kata itu padaku. Bukan bermaksud mencari perhatian, namun seberapa besar perhatiannya padaku. Fiuh... itu hanyalah rasa rinduku padanya. Hari ini aku memulai hari dengan berdoa. Sudah terbesit niat dalam hati untuk tahajut malam ini, namun terlalu siang aku bangun. Kulanjutkan dengan tidur dan tidur hingga menjelang siang di Lab Seni rupa. Tahukah kau hanya gadis bernama icha lah yang pertama dan satu satunya memberi selamat, disamping kemarin sesepuh sempat mengingatkan cindil dan canya untuk minta traktiranku. Ica sempat dekat denganku, teman seangkatanku. Namun saat aku hampir berpacaran dengannya, aku menolaknya. Ternyata seseorang yang memperhatikanku adalah gadis yang didepanku. Aku memang orang yang bodoh, sangat bodoh. Terimakasih icha, kebaikanmu kan slalu ada dihatiku. Baru kemarin aku berangkat ke Surabaya hanya untuk mengurusi kartu studi semester III ini. Berencana untuk tidak pulang, aku menetap sehari untuk membandingkan apakah hari ini spesial dimata teman teman di Surabaya ataukah yang berada di rumah sendiri.
    Aku tak habis fikir mengapa tak ada inisiatif sama sekali teman teman untuk... ah... aku bingung. Aku masih ingat kata alumni, jadilah orang yang diingat dan dibutuhkan. Mungkin usahaku kurang untuk membantu teman teman sehingga tak diingat diriku dihari ini. Seakan akan aku mengemis ucapan, memalukan. Sekali pernah aku mengucapkan selamat berupa pantun kepada cendel, gadis seangkatanku. Responnya begitu tak enak, aku tak akan mengucapkan itu lagi padanya. Pelajaran yang dapat kuambil dari sini dan sudah beberapa kali terjadi ialah tidak semua kebaikan kita akan terbalas dengan kebaikan pula. Mungkin itulah hidup, membuat kita semakin keras dalam beradaptasi. Aku kapok lagi bila seperti ini jadinya. Aku memulai hari yang spesial ini sendrian. Dimana semua pulang kenegaranya masing- masing, akupun demikian. Lab sepi, baru beberapa menit kutinggal melihat jadwal kereta api. Motor kutitipkan di pnggiran Lab, dengan maksud besok senin aku sudah kembali lagi ke Surabaya untuk menyerahkan Kartu studi yang sudah dibayar serta berniat mendaftar didalam UKM saat MPMB besok. Pramuka aku datang...!!! Aku berjalan menuju terminal wonokromo berharap ada LAN lewat, namun hingga separuh perjalanan tak ada yang berhenti. Akhirnya aku potong jalan berhubung waktu keberangkatan sebentar lagi.
    Dijalan aku bertemu dengan seorang yang menawarkan tumpangan. namanya Pak Soleh. Rumahnya tak jauh dari kampus, daerah krukah. Untung Pak soleh lewat disaat aku kelelahan dikejar waktu. Aku sangat berterimakasih padanya diantara semua kecurigaan kejahatan Surabaya, ternyata ada juga orang yang baik. Tak sampai disitu aku bertemu orang baik. Sampai di Stasiun Wonokromo, aku membeli tiket keberangkatan madiun dengan SRI Tanjung. Masuklah aku keperon dengan percaya diri. Sampai didalam aku mengambil kursi tunggu disamping ibu ibu yang membawa beberapa kardus penuh beserta anak gadisnya sebaya denganku. Akupun bertanya pada ibu itu tentang tiket, maksud, dan pengalaman pertamaku ini. Ibu dan gadis itu hendak ke banyuwangi. Sampailah Sri Tanjung dan semua penumpang masuk. Aku tak tahu Sri Tanjung ini hendak kebanyuwangi, sehingga kuikuti gadis itu, seumpama aku salah bisa bertanya kepadanya. Lantas aku benar benar salah naik, mereka cukup menghawatirkanku, dan itu membuatku sedikit merasa aman dalam perjalana, walaupun aku tak sempat meminta nomor HP nya. Terimakasih teman, semoga lain waktu kita bisa bertemu lagi untuk aku mengucapkan terimakasih. Dengan duduk sendiri, aku dipandu oleh bapak yang tepat duduk dihadapanku. Diceritakan beberapa keasikan naik kereta, mungkin dalam hatinya semoga aku tidak kapok lagi naik kereta api.
    Sampai pada stasiun gubeng aku oper ke Sri Tanjung jurusan Jogjakarta, namun nantinya aku akan turun di Stasiun Barat. Akhirnya lega duduk dengan ditemani beberapa kakak yang juga ramah. Aku sempat tersenyum sendiri menyaksikan pengalaman pertamaku naik kereta api yang lumayan memalukan, disamping menyenangkan karena aku dapat menceritakanya dihari Spesialku ini. Mereka turun madiun, sempat cerita banyak dan pamit padaku. Mulai memasuki madiun perjalanan satu jam ditempuh. Kereta sudah kehabisan penumpang, dan yang lebih seru lagi gerbongku hanya ada aku saja yang tertinggal. Kutengok kebelakang dan kedepan tak ada tanda tanda kehidupan sama sekali sesekali petugas lewat untuk memantau keadaan dan lenyap lagi. Aku akhirnya pindah kegerbong paling depan setelah gerbong kedua yang kusinggahi kurasa tak aman lagi dalam hatiku.
    Lama lama lama akhirnya sampailah pada stasiun barat. Turun dan aku menghubungi adik untuk dijemput, setengah jam kemudian akupun sampai rumah. Bukan lama perjalanan, namun lama adik tak membalas, ditambah lama menunggunya datang. Sampai mangkel dalam hati ini rasanya. Sesampai rumah lelah sudah badan ini setelah perjalanan, pengalaman, dan hari yang melelahan. Aku tersenyum sendiri dalam hati, walaupun akhirnya terkena flu juga. Sempat aku menelpon seseorang yang kutunggu sejak pagi tadi namun hanya datar sambutannya. Padahal saat ulangtahunnya pebruari lalu sampai nangis ia marah padaku karena aku lupa beberapa jam saja untuk mengucapkan selamat padanya. Hanya perhatian itulah yang dapat membangun kami untuk lebih dekat. Sekarang ia sudah tidur. Selamat malam ukhti, semoga mimpimu indah, dan tolong untuk malam ini jangan mimpikan aku...
    Keesokan harinya masih tak ada kabar darinya. aku menunggu, namun aku malu mengemis. Apa hakku mewajibkannya untuk ingat akan hal itu. hingga malam sebuah sms darinyapun datang. mengucapkan selamat dengan berupa sms lucu. aku senang namun masih ada rasa mangkel dahati. daripada berkepanjangan, akupun mengakhiri percakapan sms hari itu. kucoba dengan kata kata baik, namun masih tampak mencolok aura emosi didalamnya. tak tahulah bagaimana, aku seakan bersikap layaknya anak kecil.


    Origine by Lintang N, 28 juli 2010

Ikebana

    Ikébana adalah seni merangkai bungayang memanfaatkan berbagai jenis bunga, rumput-rumputan dan tanaman dengan tujuan untuk dinikmati keindahannya. Ikebana berasal dariJepang tapi telah meluas ke seluruh dunia. Dalambahasa Jepang, Ikebana juga dikenal dengan istilahkadō (華道?, ka, bunga; do, jalan kehidupan) yang lebih menekankan pada aspek seni untuk mencapai kesempurnaan dalam merangkai bunga.

    Di dalam Ikebana terdapat berbagai macam aliran yang masing-masing mempunyai cara tersendiri dalam merangkai berbagai jenis bunga. Aliran tertentu mengharuskan orang melihat rangkaian bunga tepat dari bagian depan, sedangkan aliran lain mengharuskan orang melihat rangkaian bunga yang berbentuk tiga dimensi sebagai benda dua dimensi saja.

    Pada umumnya, bunga yang dirangkai dengan teknik merangkai dari Barat (flower arrangement) terlihat sama indahnya dari berbagai sudut pandang secara tiga dimensi dan tidak perlu harus dilihat dari bagian depan.

    Berbeda dengan seni merangkai bunga dari Barat yang bersifat dekoratif, Ikebana berusaha menciptakan harmoni dalam bentuk linier, ritme dan warna. Ikebana tidak mementingkan keindahan bunga tapi pada aspek pengaturannya menurut garis linier. Bentuk-bentuk dalam Ikebana didasarkan tiga titik yang mewakililangit, bumi, dan manusia.

    Asal-usul

    Asal-usul Ikebana adalah tradisi mempersembahkan bunga di kuil Buddha di Jepang. Ikebana berkembang bersamaan dengan perkembangan agama Buddha di Jepang di abad ke-6.

    Ada penelitian yang mengatakan Ikebana berasal dari tradisi animisme orang zaman kuno yang menyusun kembali tanaman yang sudah dipetik dari alam sesuai dengan keinginannya. Di zaman kuno, manusia merasakan keanehan yang terdapat pada tanaman dan mengganggapnya sebagai suatu misteri. Berbeda dengan binatang yang langsung mati setelah diburu, bunga atau bagian tanaman yang sudah dipetik dari alam bila diperlakukan dengan benar tetap mempertahankan kesegaran sama seperti sewaktu masih berada di alam. Manusia yang senang melihat "keanehan" yang terjadi kemudian memasukkan bunga atau bagian tanaman yang sudah dipotong ke dalam vas bunga. Manusia zaman kuno lalu merasa puas karena menganggap dirinya sudah berhasil mengendalikan peristiwa alam yang sebelumnya tidak bisa dikendalikan oleh manusia.

    Ketakjuban manusia terhadap tumbuhan yang dianggap mempunyai kekuatan aneh juga berkaitan dengan pemujaan tanaman yang selalu berdaun hijau sepanjang tahun (evergreen). Manusia zaman dulu yang tinggal di negeri empat musim percaya bahwa kekuatan misterius para dewa menyebabkan tanaman selalu berdaun hijau sepanjang tahun dan tidak merontokkan daunnya di musim dingin.

    Sejarah seni merangkai bunga

    Menurut literatur klasik seperti Makura no sōshi yang bercerita tentang adat istiadat Jepang, tradisi mengagumi bunga dengan cara memotong tangkai dari sekuntum bunga sudah dimulai sejak zaman Heian. Pada mulanya, bunga diletakkan di dalam wadah yang sudah ada sebelumnya dan kemudian baru dibuatkan wadah khusus untuk vas bunga.

    Ikebana dalam bentuk seperti sekarang ini baru dimulai para biksu di kuil Chōhōji Kyoto pada pertengahanzaman Muromachi. Para biksu kuil Chōhōji secara turun temurun tinggal di kamar () di pinggir kolam (ike), sehingga aliran baru Ikebana yang dimulainya disebut aliran Ikenobō.

    Di pertengahan zaman Edo, berbagai kepala aliran (Iemoto) dan guru besar kepala (Sōke) menciptakan seni merangkai bunga gaya Tachibana atau Rikka yang menjadi mapan pada masa itu.

    Di pertengahan zaman Edo hingga akhir zaman Edo, Ikebana yang dulunya hanya bisa dinikmati kalangan bangsawan atau kaum samurai secara berangsur-angsur mulai disenangi rakyat kecil. Pada zaman itu, Ikebana gaya Shōka (seika) menjadi populer di kalangan rakyat.

    Aliran Mishōryū, aliran Koryū, aliran Enshūryū dan aliran Senkeiryū melahirkan banyak guru besar dan ahli Ikebana yang memiliki teknik tingkat tinggi yang kemudian memisahkan diri membentuk banyak aliran yang lain.

    Ikebana mulai diperkenalkan ke Eropa pada akhir zaman Edo hingga masa awal era Meiji ketika minat orang Eropa terhadap kebudayaan Jepang sedang mencapai puncaknya. Ikebana dianggap mempengaruhi seni merangkai bunga Eropa yang mencontoh Ikebana dalam line arrangement.

    Sejak zaman Edo lahir banyak sekali aliran yang merupakan pecahan dari aliran Ikenobō. Pada bulan Maret2005 tercatat 392 aliran Ikebana yang masuk ke dalam daftar Asosiasi Seni Ikebana Jepang.

    Gaya Rangkaian dalam Ikebana

    Ada 3 gaya dalam Ikebana, yaitu : rikka, shoka dan jiyuka.

    Rikka (Standing Flower)adalah ikebana gaya tradisional yang banyak dipergunakan untuk perayaan keagamaan. Gaya ini menampilkan keindahan landscape tanaman. Gaya ini berkembang sekitar awal abad 16. Ada 7 keutamaan dalam rangkaian gaya Rikka, yaitu : shin, shin-kakushi, soe, soe-uke, mikoshi, nagashi dan maeoki

    Shoka adalah rangkaian ikebana yang tidak terlalu formal tapi masih tradisional. Gaya ini difokuskan pada bentuk asli tumbuhan. Ada 3 unsur utama dalam gaya Shoka yaitu : shin, soe, dan tai. Sesuai dengan perkembangan zaman, sesudah Restorasi Meiji 1868, gaya ini lebih berkembang karena adanya pengaruh Eropa Nageire arti bebasnya “dimasukan” (rangkaian dengan vas tinggi dengan rangkaian hampir bebas)dan Moribana. rangkaian menggunakan wadah rendah dan mulut lebar). Lalu pada tahun 1977 lahir gaya baru yaitu Shoka Shimputai, yang lebih modern, terdiri dari 2 unsur utama yaitu shu dan yo, dan unsur pelengkapnya, ashirai.

    Jiyuka adalah rangkaian Ikebana bersifat bebas dimana rangkaiannya berdasarkan kreativitas serta imaginasi. Gaya ini berkembang setelah perang dunia ke-2. Dalam rangkaian ini kita dapat mempergunakan kawat,logam dan batu secara menonjol.

    Perlengkapan

    Hampir sama dengan peralatan merangkai bunga gaya eropa, dalam Ikebana kita memerlukan kawat dari berbagai ukuran (ketebalan kawat), gunting (gunting khusus ikebana), Floral tape (warna hijau dan coklat),selotip. Juga tang bunga (utk mematahkan), kenzan yaitu alas berduri tajam tempat mencucukan bunga, juga semacam pipet besar untuk mengambil air yang lama di vas ketika kita hendak mengganti airnya, batu-batuan kecil juga bisa dipergunakan bila kita mempergunakan vas/wadah/suiban tinggi.


    Aliran yang terkemuka

Lukisan - Monalisa

    [Lukisan Monalisa] Lukisan Monalisa
    Siapa yang tak terpesona dengan lukisan 'Mona Lisa Smile'? Sejumlah ilmuwan seni asal Prancis berhasil memecahkan sejumlah rahasia di balik pesona karya legendaris Leonardo da Vinci itu.
    Para pakar dari Pusat Penelitian dan Restorasi Museum Prancis itu menemukan bahwa lukisan da Vinci dilakukan dengan teknik lapis ekstratipis. Da Vinci menerapkan 30 lapisan untuk lukisannya yang mengagumkan. Setiap lapis hanya setebal 40 mikrometer, setengah dari ketebalan rambut.

    "Teknik itu disebut sfumato," kat salah satu peneliti, Philippe Walter. Teknik itulah yang membuat da Vinci berhasil menciptakan ilusi dan bayangan menakjubkan dalam lukisannya.

    Tak hanya lukisan 'Mona Lisa Smile', tim juga meneliti enam lukisan karya da Vinci lainnya yang seluruhnya tersimpan di museum Louvre. Penelitian dilakukan dengan teknis X-ray fluorescence spectroscopy untuk mempelajari lapisan cat dan komposisi kimianya.

    Mereka membawa peralatan berteknologi tinggi itu ke museum saat tutup dan mengamati wajah potret ', yang merupakan simbol dari Sfumato. Proyek ini dikembangkan melalui kerjasama dengan European Synchrotron Radiation Facility di Grenoble.

    "Sekarang kita bisa mengetahui campuran pigmen yang digunakan da Vinci untuk setiap lapisan lukisannya," kata Walter. "Dan, itu sangat, sangat penting untuk memahami teknik ini."

    Analisis dari sejumlah lukisan itu mengungkap bahwa da Vinci terus mencoba metode baru dalam setiap karyanya. Dalam 'Mona Lisa Smile', da Vinci menggunakan oksida mangan untuk menciptakan dimensi. Ia juga menggunakan tembaga, bahkan glasir.

    Catatan sejarah mengungkap, 'Mona Lisa Smile' adalah lukisan Lisa Gherardini, istri Francesco del Giocondo, seorang pedagang asal Florence. Da Vinci mulai melukis itu pada tahun 1503. Giorgio Vasari, pelukis abad ke-16 dan penulis biografi da Vinci dan seniman lainnya, menulis bahwa da Vinci menyempurnakan lukisan itu selama empat tahun. (Associated Press/adi)

Cerpen - Gerbang Oranye

    Anak Gerbang Oranye
    Tak terasa dahulu secepat ini akan berakhir. Padahal sepertinya baru kemarin aku mendaftar disekolah ini. Masih terasa olehku deg- degan dalam hati menunggu pengumuman penerimaan siswa baru tiga tahun yang lalu. Namun kini aku sedang duduk dengan penuh konsentrasi. Berhadapan dengan lembar demi lembar soal ujian tahun ini. Terkadang aku merasa tidak adil tiga tahun aku menghisap asam manis SMA, namun dibayar hanya dengan 5 hari yang menentukan. Asam manis tersebut kini berakhir dengan senyumku bula mengingat kejadian yang ganjil itu. Tepatnya hari keempat Ujian Nasional kali ini. Strategi kami lancarkan demi keberhasilan nanti mulai dari menyalami kepala sekolah dan semua orang yang ada didalam sekolah tersebut, hingga berlangganan koran. Dari koran yang kubaca, ternyata banyak juga kasus yang terjadi disekolah lainnya. Kalau difikir- fikir kami seharusnya bersyukur dengan pengawas tahun ini. Mereka tidak berfikir siswa harus mengerjakan sendiri, namun bagaimana agar kami dapat mengerjakan dengan sebaik- baiknya. Sayangnya dari semua mahluk yang ada disekolah ini hanya satu orang yang kontra dengan semua ini. Entah dia robot dengan program penghancuran ataukah orang yang tak pernah peduli dengan nasib anak anak desa seperti kami ini. Siapa lagi kalau bukan seorang wanita yang diutus independen atau apalah namanya. Aku harap setelah Ujian selesai aku dapat menggigitnya sekuat tenaga. Toh juga kami anak anak desa akan berakhir didesa itu sebagai penerus bapak- bapak kami yang mulai lelah mencari uang agar kami tetap bersekolah.
    Terus terang aku tak pernah belajar pada Ujian nasional kali ini, bahkan sampai Ayahku marah- marah aku masih tetap tak menyentuh buku. Bukannya tak belajar, melainkan tak bisa belajar. Kalau ditanya bisa? Tentunya aku tak bisa namun hal itulah yang membuatku kini mengerti tentang apa saja yang selama ini aku pelajari. Hanya berkisar tentang dunia dan seisinya, tidak mencakup misteri jagat semesta. Yang masih tak kumengerti ialah kapan aku dapat mencampur CH3COOH 2molal dengan KCL 5molal, atau mengukur Energi Potensial dari balok kayu bermassa 10 kg setelh 5 detik. Sedangkan aku berniat meneruskan cita- citaku dibidang seni rupa. Anehnya hal yang takan pernah aku lakukan inilah penentu masa depanku. Andai saja aku melihat Bapak Presiden menghitung kecepatan mobil dengan teori GLBB setelah 7 sekon hanya untuk iseng- iseng mungkin sejak lama aku sudah menjuarai Olimpiade Sains Internasional.
    Dibalik Gerbang berwarna Oranye inilah aku berdiri sekarang. Lama aku menatapnya, tak terasa sudah waktunya aku harus meninggalkannya. Teman- temanku, Wali kelasku, para Guruku dengan karakter mereka masing- masing, dan tentunya bangku tanpa laciku yang telah kucoret- coret mulai dari contekan hingga gambar- gambar yang tak jelas bentuknya. Kupejamkan mata, kini kudengar tawa riang mereka, kesedihan mereka, dan kejahilan mereka. Aku merekam setiap kejadia dalam sekolah ini selama 3 tahun terakhir. Ada yang aneh, lucu, gila, kocak, ajaib, menakjubkan, hingga menyebalkan. Tentunya dengan segudang cerita cinta yang wajib melekat pada anak remaja sepertiku. Sayangnya aku malas berurusan dengan cinta, entah mengapa.
    Ternyata masa- masa dulu aku berada dikelas yang kukira sangat membosankan dengan ditemani pidato panjang sang Guru ternyata hal itulah yang paling kurindukan, setidaknya nanti setelah aku lulus. Namun apapun itu, bagaimanapun itu, sekolahku adalah yang nomor satu. Sayangnya aku bukan anak yang cerdas yang bisa mengangkat nama sekolah setinggi mungkin seperti yang lain. Seandainya mereka tahu seberapa berusahanya aku agar sekolah yang dibilang pelosok ini agar bisa mendapatkan nama yang harum dan bisa kubanggakan, pastilah Ibu Kepala Sekolah bakal sedih 3 hari 3 malam mengetahuinya. Paling tidak ada namaku didaftar absen sebagai pelengkap agar bangku yang tak berlaci itu terisi mahluk walau tidak terlalu bisa diandalkan. Tiga hal yang kudapatkan selain ilmu pengetahuan ialah persahabatan, bagaimana seharusnya menjadi seorang manusia karangan Wali Kelasku, dan makna dari sebuah kehidupan oleh seorang anak manusia yang hendak mengejar cita- citanya. Itulah
    yang kusebut dengan Gerbang Oranye.

Ornamen - Motif Majapahit

    Ornamen Majapahit
    Indonesia yang kaya menyimpan sebuah etnik yang tiada duanya. salah satunya terwujud dalam bentuk Motif Ornamen Ukir. Ornamen merupakan salah satu seni hias yang paling dekat dengan kriya apalagi jika dikaitkan dengan berbagai hasil produknya, oleh karena itu untuk membuat dan mengembangkan atau merintis suatu keahlian pada bidang kriya peranan ornamen menjadi sangat penting. Disamping itu dalam hal hias-menghias, merupakan salah satu tradisi di Indonesia yang tidak kalah pentingnya dan tidak dapat dipisahkan dengan cabang-cabang seni rupa lainnya. Peranan ornamen sangat besar, hal ini dapat dilihat dalam penerapannya pada berbagai hal meliputi: bidang arsitektur, alat-alat upacara, alat angkutan, benda souvenir, perabot rumah tangga, pakaian dan sebagainya, untuk memenuhi berbagai aspek kehidupan baik jasmaniah maupun rokhaniah. banyak macam motif dari ornamen di indonesia. bahkan ditiap daerah motif tersebut tak ada yang sama walaupun beberapa hampir mirip dalam segi bentuk, rupa, ataupun bentuk dasarnya. keanekaragaman motif tersebut tentunya tak lepas dari ragam yang diangkat lewat ciri khas daerah tersebut seperti motif flora, fauna, ataupun geometris. Pada dasarnya bentuk ornamen ialah suatu gambar atau motif yang dibuat secara khusus, atau sebuah kegiatan melukis diatas kain secara melapisi bagian bagian yang tak berwarna dengan lilin atau malam.
    Pola dasar dari ornamen jarang ada yang berdiri sendiri, tentunya sering dijumpai bahkan hampir semua ornamen diiringi dengan isen isen atau isian seperti contoh isen isen carat, cecek renteng, cakar ayam, dls.
    Jika diamati secara sederhana, ornamen hanyalah bentuk serupa melingkar besar maupun kecil dengan garis garis dibagian dalamnya. dipakai oleh kerajaan kerajaan zaman dahulu sebagai penghias maupun ciri khas masing masing kerajaan tersebut.
    khususnya dipulau jawa dan dibali sendiri, ornamen lebih sering dijumpai dibanding daerah daerah lainnya. beagam corak tak habisnya menghiasi tiap daerah dipulau ini. nama nama- motif ornamen tradisional itupun berhubungan dengan nama kerajaan yang pernah berkuasa didaerah saat itu seperti motif pajajaran pada masa kerajaan pajajaan, motif mataram dimasa kerajaan mataram, maupun motif majapahit dimasa kerajaan majapahit.
    Pembahasan motif majapahit saya angkat dalam ornamen kali ini. tak hanya sekedar motif majapahit, saya juga mengembangkannya dengan menambahkan isen isen berupa daun patran dan beberapa ikal atau ukel sebagai penyeimbang bentuk keseluruhan dari ornamen ini. ornamen dasar dari bentuk ini mengambil motif mataram tepat pada bagian stilasi daun diujung dasar ornamen.
    Motif majapahit ini memiliki ciri -ciri sbb.
    daun pokoknya berbentuk ikal dan mempunyai jambul dimukanya
    serta memiliki angkup cekung berikal.
    bentuk ukiran daun berbentuk campuran, yaitu bentuk cembung dan cekung.
    bentuk dasar dari motif maapahit ini hampir sama dengan motif cirebon, motif pajajaran amaupun motif bali. hanya saja motif ini lebih padat menghiasi media dibandingkn dengan yang lainnya.
    ciri khusus dari motif ini diantaranya:
    Angkup, motif Majapahit mempunyai bentuk yang disebut dengan angkup. Angkup pada motif ini berbentuk cekung dan berikal. Bentuk ini terdapat pada bagian atas sedangkan pada ujung angkup terdapat ikal sebagai akhir dari angkup tersebut.
    Jambul Susun, merupakan salah satu ciri khas yang ada pada motif Majapahit. Jambul Susun terletak pada muka daun pokok dengan pengulangan bentuk yang berkali-kali. Sesuai dengan namanya Jambul Susun ini bentuknya tersusun secara berulang-ulang di depan agak ke atas pada daun pokoknya.
    Daun Trubus, pada motif Majapahit ini kebanyakan tumbuh di atas pada daun pokok. Trubus
    yang terdapat di atas ini jumlahnya juga mengalami pengulangan secara berkali-kali dengan jumlah yang tergolong banyak.
    Simbar, berbentuk seperti Simbar yang terdapat pada motif ukiran lainnya. Simbar juga berfungsi sebagai penambah keindahan saja. Bentuk ini memang bukanlah bentuk inti pada motif Majapahit. Simbar hanyalah sebagai pelengkap atau untuk sarana penunjang estetika. Biasanya terletak pada bagian pangkal depan dari daun pokok.
    Benangan, motif ini kadang-kadang mempunyai benangan rangkap di samping juga terdapat benangan garis. Benangan ini terdapat pada daun pokok bagian depan dimulai dari pangkal mengikuti alur lengkungan daun pokoknya menuju dan berakhir pada ulir/ukel.
    Pecahan, seperti halnya pada motif yang lain, pecahan pada motif Majapahit mempunyai dua jenis pecahan yaitu pecahan garis yang menjalar pada daun pokok dan pecahan cawen yang terdapat pada ukiran daun patran. Sehingga bentuk Pecahan ini dapat menambah keindahan
    dan kecantikan pada ukiran.

    Latar belakang mengapa saya mengangkat motif majapahit ini karena motif ini saya rasa memiliki bentuk yang lebih sederhana dibandingkan dengan motif lainnya. dengan stilasi buah yang mirip salak, mengakali ornamen agar tampak tak memiliki ujung sehingga tak tampak janggal. tampak lebih banyak menggunakan pecahan garis dan pecahan cawan terkesan seperti lembaran lembaran kecil dibagiaan sisinya. tampak tiga bagian utama dari motif ini, yaitu stilasi ikal, stilasi buah, dan stilasi ikal yang dibuat lebih kecil melingkar menoleh bertolk belakang dengan ikal utamanya. berbeda dengan motif motif pada umumnya yang warna dasarnya coklat, saya menggunakan warna merah yang didegridasi menuju warna putih untuk kesan berani namun tetap tampak anggun. pecahnya warna dasar merah dengan teknik sapuan kuas mmenjadikannya berubah jadi merah muda atau pink, bahkan untuk menuju kewarna putih cukup sulit dikarenakan bentuk motif yang lumaya lebar mengalahkan background putih. merah disini mengikuti zaman sekarang yang menuntut warna lebih cerah dalam penerapannya. tidak seperti zaman dahulu dengan warna primer tua atau gabungannya sebagai dasar warna kayu, garis merah didominasi pink menjadikannya tak tampak etnik kerajaa namun lebih seperti tampak cerah, manis, cantik. walau sedikit menyimpang dari dasar ornamennya, namun 80 persen masih mengikuti aturan dasar dari ornamen utamanya seperti bentuk, teknik pewarnaan (tebal tipis sebuah ornamen), bentuk dasar motif, dan ciri khas daerah motif itu sendiri.


    Lalu...
    Ornamen majapahit adalah ornamen yang sangat indah dan menarik. Memiliki suatu daya tarik tersendiri yang tak biasa dijumpai ornamen daerah lain seperti pola dasarnya atau isen- isen yang lebih sederhana namun beragam. Disini saya membuatnya mulai dari dasar dasarnya hingga terbentuklah ia sebuah bentuk ornamen majapahit dan sekaligus mempelajarinya dari
    berbagai sumber mulai dari internet, koran, majalah, dan lain- lain. Dari sini selain saya dapat mengenal salah satu kebudayaan Indonesia, juga dapat memahaminya lebih mendalam tentang ornamen, khususnya Ornamen majapahit.
    Pengetahuan ini tak hanya sebatas untuk saya pelajari dan saya kenal, harapannya saya juga dapat menjaga dan sekaligus melestarikannya dengan sebaik- baiknya sekaligus memperkenalkannya kepada negara lain bahwa inilah kebudayaan di Indonesia. Dengan maksud selain agar kebudayaan Indonesia tak punah atau diambil oleh negara lain, juga sebagai jati diri bangsa Indonesia itu sendiri yang akan terwarisi kepada anak cucu kita kelak.

Pameran Rumah Tangga

    Rumah Tangga

    Rumah tangga adalah sebuah ikatan yang berawal dari cinta yang hingga akhirnya menjadi sebuah keharmonisan yang panjang. tumbuh dan berkembang dengan warna warna yang bagai pelagi, menghiasi sebuah keluarga itu sendiri. memiliki peran dan tanggungjawab masing masing yang mestinya dijalani dengan sebaik mungkin agar terjadi sebuah keharmonisan. tak ada yang mengharuskan, namun memang jalan takdir dan insting dari manusia karena memang pada dasarnya tiap manusia diciptakan saling brpasang pasang agar manusia itu sendiri mampu menyadari seberapa besar kekuasaan Tuhan yang menciptakan sebuah rasa cinta. cinta yang mengikat antara satu dengan yang lainnya yang hingga pada akhirnya munculah yang namanya rumah tangga. tampak dari tugas masing masing anggota keluarga yang kadang kala saling membany lsatu sama lainnya. namun kadang kala terjadi ketidak cocokan dalam mengambil tindakan hingga terjadi pertengkaran antara adik kakak maupun suami dan istri. hal ituwajar sebagai pelangi dalam menjalani tangga yang panjang hingga suatu saat dapat menikmati hasil dari buah cinta sebuah pasangan, yaitu anak. rumah tangga dianggap sebagai puncak dari kehidupan, dimana setelah kita berumah tangga, telah bekerja dan telah memiliki beberapa oranga anak, serasa sempurnalah hidup itu. tak peru dipungkiri dengan fakta seperti itu karena cinta mengikat semua manusia menjadi satu dalam arti serius yaitu rumah tangga.

    Harmonis adalah perpaduan dari berbagai warna karakter yang membentuk kekuatan sebuah benda. Perpaduan inilah yang membuat warna apa pun bisa cocok menjadi rangkaian yang indah dan serasi. Warna hitam, misalnya, kalau berdiri sendiri akan menimbulkan kesan suram dan dingin. Jarang orang menyukai warna hitam secara berdiri sendiri. Tapi, jika berpadu dengan warna putih, akan memberikan corak tersendiri yang bisa menghilangkan kesan suram dan dingin tadi. Perpaduan hitam-putih jika ditata secara apik, akan menimbulkan kesan dinamis, gairah, dan hangat.

    Seperti itulah seharusnya rumah tangga dikelola. Rumah tangga merupakan perpaduan antara berbagai warna karakter. Ada karakter pria, wanita, anak-anak, bahkan mertua. Dan tak ada satu pun manusia di dunia ini yang bisa menjamin bahwa semua karakter itu serba sempurna. Pasti ada kelebihan dan kekurangan. Perbedaan itulah letak keharmonisan dari sebuah keluarga. Tidak akan terbentuk irama yang indah tanpa adanya keharmonisan antara nada rendah dan tinggi. Tinggi rendah nada ternyata mampu melahirkan berjuta-juta lagu yang indah.

    Dalam rumah tangga, segala kekurangan dan kelebihan saling berpadu. Kadang pihak suami yang bernada rendah, kadang isteri bernada tinggi. Di sinilah suami-isteri dituntut untuk menciptakan keharmonisan dengan mengisi kekosongan-kekosongan yang ada di antar mereka.

    Hasil Karyanya???

    "padi"
    "padi" adalah sebuah perlambangan dari kemakmuran dan kesejahteraan. dilambangkan dengan empat ikat padi menjadi simbol dari ayah, ibu, dan dua orang anak yang diharapkan akan sejahtera, makmur, dan tak kurang satu apapun. hal itu tentunya sebuah harapan dari pameran ini yakni semoga tercapai apa yang diekspresikan dalam simbol- simbol masing masing khususnya dalam segmen "padi" ini. Dari sini sekiranya saya merasa perlambangan padi lebih cocok dengan kesejahteraan dan kemakmuran sebab padi bersifat tumbuh dan menghdupi. ia mengandung banyak butiran dan banyak dicari oleh siapa saja. oleh sebab itu makanan pokok dari orang indonesia sendiri ialah nasi yang berasal dari bulir- bulir padi. tentunya kemungkinan kecil padi yanng diambil bila pameran ini diangkat oleh orang kebangsaan lain seperti kentang misalnya atau jagung dan sebagainya selain padi. sebab orang indonesia belum dikatakan sudah makan bila belum menyentuh yang namanya nasi. dapat diambil pesan nasionalisme dalam sesi ini yakni makanan khas Indonesia yang berasal dari padi. selebihnya masih banyak lagi pesan yang tersimpandalam filosofi pasi disini.


    "tangga"
    "tangga" disini lebih ditonjolkan pada sebuah tangga yang orang tentu langsung mengerti maksud dari lukisan itu yakni sebuah rumah tangga. namun pesan yang dapat saya ambil dari lukisan ini ialah lebih pada sebuah rumah tangga yang menjulang jauh tinggi keangkasa dan disertai dengan tumbuhnya bunya putih yang melinarinya. dari segi pembuatannya mencerminkan sebuah keharmonisan warna yang indah yaitu perlambangan kembali dari rumah tangga Bapak Jabaril dan Ibu Ika. lukisan inilah yang menjadi ikon utama dalam pameran bertajuk Rumah tangga lalu. tak dipungkiri sebab lukisan ini menjuru langsung pada inti pameran rumah tangga. Saya melihat dari segi lukisan, rumah tangga keluarga ini telah panjang jalan yang dijalani hingga digambarkan sampai menemus awan hingga langit. dililit oleh bunga tampak keharmonisan yang ditunjukan ewalau seharusnya banyak pula masalah yang terjadi dalam rumah tangga tersebut. tampak semi realis cocok untuk mengangkat nilai fiosofi
    sebuah lukisan daripada benar- benar realis. disinilah nilai tambah keluarga Bapak Jabaril yang hingga saat ini masih utuh dan semoga bahagia selamanya.


    Papat Pancer Lima Wali
    Dilukiskan dengan cat minyak, enam buah wajah dengan warna yang seragam. namun yang saya angkat adalah "wajah merah" yang dilukis memakai warna merah berni. tiap warna memiliki kesan pesan dan filosof berbeda- beda. dari llukisan Papat Pancer Lima Wali ini saya melihat bahwa ada terdapat sebuah kemarahan, ketegasan, keberanian, amukan, bahkan kegigihan dalam memperjuangkan rumah tangga. Pesan- pesan ni terangkum dalam sisi merahnya. dari segi bentuk wajah, hanya memakai garis tebal menyerupai wajah yang seharusnya masih belum bisa dikatakan wajah, hanya saja menyerupai wajah- wajah manusia. ada enam stilasi wajah menunjuk pada jumlah aseluruh anggota keluarga yaitu ayah, ibu, danempat orang anak. dalam sebuah rumah tangga tentunya tak lepas dari kemarahan yang anggaplah sebagai warna warni dari rumah tangga. merah dapat berarti kegigihan seorang ayah bekerja banting tulang peras keringat hanya untuk menghidupi anak istri. atau merah disini dapat pula menjadi tolak ukur kegigihan seorang ibu yang dengan beraninya bertaruh nyawa demi melahirkan buah hati mereka. dan bisa jadi merah sebagai warna dari seorang anak yang gagah berani, simbol dari baik buruknya sebuah keluarga ini. yang terakhir merah dapat dikatakan warna dari keluarga dalam masyarakat yang keras di ibu kota. penafsiran- penafsiran ini menjuru pada keseluruhan warna yang dominan sebagai ungkapan perasaan, yakni warna warni sebuah keluarga.

    "jaring"
    Instalasi menarik dari pameran rumah tangga adalah sebuah instakasu yang memiliki daya tarik tersendiri. instalasi hiasan jaring yang mengikat banyak lukisan lukisan kecil berukuran 30 X 30 mengisahkan ikatan yang sanyat erat dan banyak dari cintanya ayah dan ibu pada anaknya, atau sebaliknya yang begitu ramainya dengan pesan- pesan moral yang dibawakan oleh beberapa lukisan kecil. lukisan kecil bersubyek benda tak jelas rupanya hingga saya sendiri tak mengerti gambar gambar apa yang terpampang. Berbentuk garis garis abstrak melingkar serupa bundaran- bundaran ekspresionis dari penciptanya. tergantung dalam jaring ikan yang tak terlalu luas hingga cukup dalam ruangan gallery sozo art. bukan menjadi sempit, malah memperindah dari obyek lukisan lain yang ada disekitarnya. sedikit menceritakan bagaimana ikatan sebuah keluarga yang kuat menjadi satu hingga tak dapat terpisahkan oleh apapun. jaring jaring yang hampir tak terlihat membuat lukisan- lukisan kecil seakan akan melayang ditengah- tengah ruangan. dapat pula ditafsir dari segi ikatan batin antara anggota keluarga satu dengan yang lainnya. atau ikatan keakraban yang terjalin bagaikan melayang diudara. instalasi yang begitu menakjubkan dalam segi estetika dan filosofinya. hampir sempurna tampak menyeluruh mulai dari atas atap hingga lantai dengan taburan taburan benda dibawahnya.


    Dan...


    Akhirnya pameran yang berlangsung beberapa hari didua kota ini berakhir dengan baik dan mendapat apresiasi yang luar biasa dari beberapa rekan dan murid Ibu Ika maupun Bapak Jabaril. hingga tertulislah sebuah makalah kecil ini yang mengangkat tema pameran rumah tangga, hasil dari pasangan suami istri Bapak Jabaril dan Ibu Ika yang berisikan penafsiran penafsiran tentang beberapa karya lukisan maupun instalasi dalam gallery sozo art space.
    Penafsiran- penafsiran ini tidaklah sebagai patokan dalam menafsirkan semua karya pameran ini, namun lebih sebagai sebuah sudut pandang baru dari sebuah pemikiran mahasiswa seni rupa, karena pada dasarnya arti dari karya karya pameran tersebut adalah hak dari para penikmat seni masing- masing. mengambil acuan dari kehadiran langsung pada pameran, mensurvey bagaimana sebuah keluarga yang berarti, dan mencari reverensi dari berbagai sumber hingga terbentuk sebuah pemikiran baru ini.
    Banyak kesalahan yang terjadi dalam segi penulisan, penafsiran, maupun dalam segi pembahasaannya yang memang saya sendiri belum pernah mengalami bagaimana rasanya menjadi kepala rumah tangga. arti dari rumah tangga sendiri mengambil pemikiran dari segi dunia anak, posisi saya dalam keluarga sekarang. semoga dari pemikiran ini akan muncul pemikiran- pemikiran baru yang akan menguak semua sisi dari sebuah arti rumah tangga khususnya pameran rumah tangga kali ini.
    Akhirnya dengan segala hormat, saya mengucapkan banyak terimakasih dan mohon maaf yang sebesar- besarnya bila terdapat salah kata atau sesuatu hal yang tak layak untuk diulas dalam pameran ini. harapan saya semua yang menjadi harapan harapan dan angan yang disimbolkan dengan berbagai benda yang ada dalam pameran ini menjadi kenyataan dan akan membawa sebuah keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah, amin.

Seni Rupa di Indonesia

    Seni Rupa di Indonesia

    Bicara soal seni atau seni rupa, tentunya yang terlintas dalam fikiran kita ialah sebuah keindahan atau yang berhubungan dengan hal yang indah. Tak sering terfikirkan oleh masyarakat umumnya tentang sebuah tatanan kota yang rapi dan baik termasuk juga memiliki unsure seni atau sebuah iklan yang menarik dan lucu, mengandung unsure seni juga. Disitulah refleksi kesadaran masyarakat mengenai seni di Indonesia yang umumnya masih awam.

    Banyak yang menyebutkan seni masih belum berkembang di Negri kita ini. Misalkan suatu kasus kebanyaan usahawan mengimpor seniman arsitek untuk sebuah proyek besar sedangkan arsitek local hanya pegang yang mudah udah saja. Entah karena bangsa ini masih taraf berkembang atau para senimannya yang belum cukup ilmu. Atau bisa jadi masyarakat umum amb jalur aman dan belum percaya sepenuhnya dengan kemampuan “keluarga” sendiri.

    Kembali lagi pada seniman itu sendiri, mampukah mereka berkomitmen untuk dapat dipercaya. Masih berputar lagi pada ilmu seni yang mereka pegang. Sejauh mana mereka memahami dan mengetahui seni dibanding Negara- Negara meju yang juga ssentra seni seperti paris atau inggris misalnya.

    Banyak calon generasi muda yang berniat mendalami seni hingga keilmu ilmu yang paling dalam. Namun kebanyakan niat itu kandas ketika sarana yang tersedia di Negri kita yang tercinta ini tidak mendukung akan hal itu. Bayangkan saja berapa perbandingan jurusan seni rupa atau pendidikan seini rupa bila dibandingkan dengan jurusan lain seperti matematika atau bahasa diseluruh universitas di Indonesia. Akan sangat tampak jauh mencolok selisihnya dan imbasnyapun pemerintah akan erasakan nya lambat laun.

Total Pageviews